JANGAN HALANGI AKU MEMBELA
RASULULLAH !!!" (Kisah MUSLIMAH SEJATI)
Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ...Hari itu Nusaibah
tengah berada di dapur. Suaminya, Said tengah
beristirahat di kamar tidur. Tiba-tiba terdengar
suara gemuruh bagaikan gunung-gunung batu
yang runtuh. Nusaibah menebak, itu pasti tentara
musuh. Memang, beberapa hari ini ketegangan
memuncak di sekitar Gunung Uhud.
Dengan bergegas, Nusaibah meninggalkan apa
yang tengah dikerjakannya dan masuk ke kamar.
Suaminya yang tengah tertidur dengan halus dan
lembut dibangunkannya. "Suamiku tersayang,"
Nusaibah berkata, "aku mendengar suara aneh
menuju Uhud. Barang kali orang-orang kafir telah
menyerang."
Said yang masih belum sadar sepenuhnya,
tersentak. Ia menyesal mengapa bukan ia yang
mendengar suara itu. Malah istrinya. Segera saja
ia bangkit dan mengenakan pakaian perangnya.
Sewaktu ia menyiapkan kuda, Nusaibah
menghampiri. Ia menyodorkan sebilah pedang
kepada Said.
"Suamiku, bawalah pedang ini. Jangan pulang
sebelum menang...."
Said memandang wajah istrinya. Setelah
mendengar perkataannya seperti itu, tak pernah
ada keraguan baginya untuk pergi ke medan
perang. Dengan sigap dinaikinya kuda itu, lalu
terdengarlah derap suara langkah kuda menuju
utara. Said langsung terjun ke tengah medan
pertempuran yang sedang berkecamuk. Di satu
sudut yang lain, Rasulullah melihatnya dan
tersenyum kepadanya. Senyum yang tulus itu
makin mengobarkan keberanian Said saja.
Di rumah, Nusaibah duduk dengan gelisah. Kedua
anaknya, Amar yang baru berusia 15 tahun dan
Saad yang dua tahun lebih muda,
memperhatikan ibunya dengan pandangan
cemas. Ketika itulah tiba-tiba muncul seorang
pengendara kuda yang nampaknya sangat gugup.
"Ibu, salam dari Rasulullah," berkata si
penunggang kuda, "Suami Ibu, Said baru saja
gugur di medan perang. Beliau syahid..."
Nusaibah tertunduk sebentar, "*Inna lillah*....."
gumamnya, "Suamiku telah menang perang.
Terima kasih, ya Allah."
Setelah pemberi kabar itu meninggalkan tempat
itu, Nusaibah memanggil Amar. Ia tersenyum
kepadanya di tengah tangis yang tertahan,
"Amar, kaulihat Ibu menangis? Ini bukan air
mata sedih mendengar ayahmu telah syahid. Aku
sedih karena tidak punya apa-apa lagi untuk
diberikan pagi para pejuang Nabi.
Maukah engkau melihat ibumu bahagia?"
Amar mengangguk. Hatinya berdebar-debar.
"Ambilah kuda di kandang dan bawalah tombak.
Bertempurlah bersama Nabi hingga kaum kafir
terbasmi."
Mata amar bersinar-sinar. "Terima kasih, Ibu.
Inilah yang aku tunggu sejak dari tadi. Aku was-
was seandainya Ibu tidak memberi kesempatan
kepadaku untuk membela agama Allah."
Putra Nusaibah yang berbadan kurus itu pun
segera menderapkan kudanya mengikut jejak
sang ayah. Tidak tampak ketakutan sedikitpun
dalam wajahnya. Di depan Rasulullah, ia
memperkenalkan diri. "Ya Rasulullah, aku Amar
bin Said. Aku datang untuk menggantikan ayah
yang telah gugur."
Rasul dengan terharu memeluk anak muda itu.
"Engkau adalah pemuda Islam yang sejati, Amar.
Allah memberkatimu...."
Hari itu pertempuran berlalu cepat.
Pertumpahan darah berlangsung sampai sore.
Pagi-pagi seorang utusan pasukan islam
berangkat dari perkemahan mereka meunuju ke
rumah Nusaibah. Setibanya di sana, perempuan
yang tabah itu sedang termangu-mangu
menunggu berita, "Ada kabar apakah gerangan
kiranya?" serunya gemetar ketika sang utusan
belum lagi membuka suaranya, "apakah
anakku gugur?"
Utusan itu menunduk sedih, "Betul...."
"*Inna lillah*...." Nusaibah bergumam kecil. Ia
menangis.
"Kau berduka, ya Ummu Amar?"
Nusaibah menggeleng kecil. "Tidak, aku gembira.
Hanya aku sedih, siapa lagi yang akan
kuberangkatan? Saad masih kanak-kanak."
Mendegar itu, Saad yang tengah berada tepat di
samping ibunya, menyela, "Ibu, jangan
remehkan aku. Jika engkau izinkan, akan aku
tunjukkan bahwa Saad adalah putra seorang ayah
yang gagah berani."
Nusaibah terperanjat. Ia memandangi putranya.
"Kau tidak takut, nak?"
Saad yang sudah meloncat ke atas kudanya
menggeleng yakin. Sebuah senyum terhias di
wajahnya. Ketika Nusaibah dengan besar hati
melambaikan tangannya, Saad hilang bersama
utusan itu.
Di arena pertempuran, Saad betul-betul
menunjukkan kemampuannya. Pemuda berusia
13 tahun itu telah banyak menghempaskan
banyak nyawa orang kafir. Hingga akhirnya
tibalah saat itu, yakni ketika sebilah anak panah
menancap di dadanya. Saad tersungkur mencium
bumi dan menyerukan, "Allahu akbar!"
Kembali Rasulullah memberangkatkan utusan ke
rumah Nusaibah. Mendengar berita kematian itu,
Nusaibah meremang bulu kuduknya. "Hai
utusan," ujarnya, "Kausaksikan sendiri aku sudah
tidak punya apa-apa lagi. Hanya masih tersisa diri
yang tua ini. Untuk itu izinkanlah aku ikut
bersamamu ke medan perang."
Sang utusan mengerutkan keningnya. "Tapi
engkau perempuan, ya Ibu...."
Nusaibah tersinggung, "Engkau meremehkan aku
karena aku perempuan? Apakah perempuan
tidak ingin juga masuk surga melalui jihad?"
Nusaibah tidak menunggu jawaban dari utusan
tersebut. Ia bergegas saja menghadap Rasulullah
dengan kuda yang ada. Tiba di sana, Rasulullah
mendengarkan semua perkataan Nusaibah.
Setelah itu, Rasulullah pun berkata dengan
senyum. "Nusaibah yang dimuliakan Allah.
Belum waktunya perempuan
mengangkat senjata. Untuk sementra engkau
kumpulkan saja obat-obatan dan rawatlah tentara
yang luka-luka. Pahalanya sama dengan yang
bertempur."
Mendengar penjelasan Nabi demikian, Nusaibah
pun segera menenteng tas obat-obatan dan
berangkatlah ke tengah pasukan yang sedang
bertempur. Dirawatnya mereka yang luka-luka
dengan cermat. Pada suatu saat, ketika ia sedang
menunduk memberi minum seorang prajurit
muda yang luka-luka, tiba-tiba terciprat darah di
rambutnya. Ia menegok. Kepala seorang tentara
Islam menggelinding terbabat senjata orang
kafir.
Timbul kemarahan Nusaibah menyaksikan
kekejaman ini. Apalagi waktu dilihatnya Nabi
terjatuh dari kudanya akibat keningnya
terserempet anak panah musuh,
Nusaibah tidak
bisa menahan diri lagi. Ia bangkit dengan gagah
berani. Diambilnya pedang prajurit yang rubuh
itu. Dinaiki kudanya. Lantas bagai
singa betina, ia mengamuk. Musuh banyak yang
terbirit-birit menghindarinya.
Puluhan jiwa orang
kafir pun tumbang. Hingga pada suatu waktu
seorang kafir mengendap dari belakang, dan
membabat putus lengan kirinya. Ia terjatuh
terinjak-injak kuda.
Peperangan terus saja berjalan. Medan
pertempuran makin menjauh, sehingga Nusaibah
teronggok sendirian. Tiba-tiba Ibnu Mas'ud
mengendari kudanya, mengawasi kalau-kalau ada
korban yang bisa ditolongnya. Sahabat itu, begitu
melihat seonggok tubuh bergerak-gerak dengan
payah, segera mendekatinya. Dipercikannya air
ke muka tubuh itu. Akhirnya Ibnu Mas'ud
mengenalinya,
"Istri Said-kah engkau?"
Nusaibah samar-sama memperhatikan
penolongnya. Lalu bertanya, "bagaimana dengan
Rasulullah? Selamatkah beliau?"
"Beliau tidak kurang suatu apapun..."
"Engkau Ibnu Mas'ud, bukan? Pinjamkan kuda dan
senjatamu kepadaku...."
"Engkau masih luka parah, Nusaibah...."
"Engkau mau menghalangi aku membela
Rasulullah?"
Terpaksa Ibnu Mas'ud menyerahkan kuda dan
senjatanya. Dengan susah payah, Nusaibah
menaiki kuda itu, lalu menderapkannya menuju
ke pertempuran. Banyak musuh yang
dijungkirbalikannya. Namun, karena tangannya
sudah buntung, akhirnya tak urung juga lehernya
terbabat putus. Rubuhlah perempuan itu ke atas
pasir. Darahnya membasahi tanah yang
dicintainya.
Tiba-tiba langit berubah hitam mendung. Padahal
tadinya cerah terang benderang. Pertempuran
terhenti sejenak. Rasul kemudian berkata kepada
para sahabatnya, "Kalian lihat langit tiba-tiba
menghitam bukan? Itu adalah bayangan para
malaikat yang beribu-ribu jumlahnya. Mereka
berduyun-duyun menyambut kedatangan arwah
Nusaibah, wanita yang perkasa."
Barakallahufikum ....
